Jumat, 05 Mei 2017
Selasa, 25 April 2017
RICK and runch
Risk and Return
a. Pengertian Risk
Bila ingin menjadi pengusaha sukses, maka anda harus berani menghadapi risiko. Kalimat tersebut dianggap resep untuk menjadi pengusaha dianggap sukses. Kehidupan usaha penuh dengan risiko, baik itu risiko finansial maupun manajerial.
· Risiko financial: Berkaitan dengan kegagalan usaha untuk merealisasikan rencana finansial yang telah ditentukan.
· Risiko manajerial: Berkaitan dengan kegagalan pimpinan perusahaan dalam mengelola perusahaannya yang pada akhirnya diukur dengan kegagalan finansial.
Risiko dapat dikatakan sebagai suatu peluang terjadinya kerugian atau kehancuran. Lebih luas, risiko dapat diartikan sebagai kemungkinan terjadinya hasil yang tidak diinginkan atau berlawanan dari yang diinginkan. Dalam industri keuangan pada umumnya, terdapat suatu jargon “high risk bring about high return”, artinya jika ingin memperoleh hasil yang lebih besar, akan dihadapkan pada risiko yang lebih besar pula. Contohnya dalam investasi saham. Volatilitas atau pergerakan naik-turun harga saham secara tajam akan membuka peluang untuk memperoleh hasil yang lebih besar, namun sebaliknya, jika harga bergerak ke arah yang berlawanan, maka kerugian yang akan ditanggung sangat besar.
Menurut Ricky W. Griffin dan Ronald Ebert, risiko adalah uncertainty about future event, adapun Joel G.Siegel dan Jae K.Sim mendefinisikan risiko pada 3 hal:
1. Keadaan yang mengarah kepada sekumpulan hasil khusus dimana hasilnya dapat diperoleh dengan kemungkinan yang telah diketahui oleh pengambilan keputusan
2. Variasi dalam keuntungan penjualan atau variabel keuangan lainnya
3. Kemungkinan dari sebuah masalah keuangan yang mempengaruhi kinerja operasi perusahaan atau posisi keuangan
David K. Eiteman, Arthur I Stonehill dan Michael H. Moffet mengatakan bahwa risiko dasar adalahthe mismatching of interest rate bases for associated assets and liabilities. Sehingga secara umum risiko dapat ditangkap sebagai bentuk keadaan ketidakpastian tentang suatu keadaan yang akan terjadi nantinya dengan keputusan yang diambil berdasarkan suatu pertimbangan. Menurut salah satu definisi, risiko (risk) adalah sama dengan ketidakpastian (uncertainty). Secara umum risiko dapat diartikan sebagai suatu keadaan yang dihadapi seseorang atau perusahaan dimana terdapat kemungkinan yang merugikan.
Dalam penyusunan anggaran modal, suatu proyek investasi ( perluasan usaha / penggantian aktiva tetap ) kita sering mengalami kegagalan setelah proyek tersebut dilaksanakan. Hal ini karena kita tidak memperhitungkan unsur risiko didalamnya.
Misal : risiko aliaran kas ( cashflow ) dalam faktor diskonto ( dicountrate ) sebagai biaya modal. Apabila aliran kas yang ada kita peroleh diwaktu yang akan datang tidak ada risiko, berarti kita dapat menentukan dengan tepat, keputusan yang akan diambil. Hal ini karena anggaran yang kita susun baik mengenai aliran kas masuk ( cash in flow ) maupun aliran kas keluar ( cash out flow ) dianggap pasti terjadi dimasa yang akan datang. Namun, jika terjadi penyimpangan, yang tidak menguntungkan, maka perusahaan akan kesulitan menyesuaikannya, karena risiko terjadinya penyimpangan tersebut belum ditentukan oleh perusahaan, lain jika unsur risiko telah ditentukan didepan. Maka apabila terjadi penyimpangan perusahaan akan lebih mudah menghitungnya.
Demikian pula biaya modal yang harus dikeluarkan dalam anggaran modal. Apabila kita menganggap bahwa COC yang akan dikeluarkan tanpa risiko, maka kita akan lebih mudah menghitungnya. Namun, dalam kenyataannya COC tersebut kemungkinan akan naik atau turun. COC yang turun bagi perusahaan akan menguntungkan, karena perusahaan mengeluarkan biaya yang lebih kecil, tetapi jika COC tersebut naik, maka akan mengurangi kebutuhan perusahaan. Apabila perusahaan menganggap bahwa biaya modal tersebut konstan/risiko, maka perusahaan dapat menggunakan tingkat bunga bebas risiko ( freerate ).
Di Indonesia, nampaknya belum ada tingkat bunga yang bebas risiko secara murni. Tingkat bunga SBI yang biasanya digunakan sebagai acuan tingkat bunga bebas risiko sebenarnya juga mengandung risiko. Walau lebih kecil risikonya dibandingtingkat bunga deposito bank-bank di Indonesia. Apalagi dalam keadaan keadaan perekonomian yang kurang menguntungkan. Besar tingkat risiko yang dimaksukan dalam panilainaan investasi akan mempengaruhi besarnya hasil yang diharapkan oleh pemodal. Apabila perusahaan membangdingkan tingkat risiko yang tinggi pada suatu investasi yang dianggarkan, maka pemodal yang akan menanamkan dananya pada investasi tersebut mengharapkan hasil/ mensyaratkan hasil ( required rate of return ) yang tinggi pula dan terjadi sebaliknya.
Memang antara hasil dan risiko ( risk and return ) memiliki hubungan linear yang berkebalikan. Semakin tinggi risiko, maka semakin tinggi hasil yang diperoleh. Sebaliknya semakin rendah risiko maka semakin rendah pula hasil yang diperoleh/disyaratkan.
Risiko terhadap perusahaan tidak dapat dihindari, kita hanya dapat mengelola bagaimana agar risiko tersebut sekecil mungkin mempengaruhi keputusan perusahaan. Risiko yang terjadi diperusahaan ada yang dapat dikelola/diatasi perusahaan terdapat pula risiko yang tidak dapat diatasi perusahaan.
Risiko yang tidak dapat diatasi perusahaan ini biasanya karena tidak dapat dikontrol oleh perusahaan. Risiko yang ada diperusahaan dapat dibedakan tiga jenis risiko :
1. Risiko individual: Risiko yang berasal dari proyek investasi secara individu tanpa dipengaruhi oleh proyek lain.
2. Risiko perusahaan: Risiko yang dapat diukur tanpa mempertimbangkan keanekaragaman yang dihadapi/portofolio yang dilakukan oleh investor.
3. Risiko pasar( market risk ): Risiko investasi ditinjau dari investor yang menanamkan modalnya pada investasi yang juga dilakukan oleh perusahaan dan perusahaan-perusahaan lain.
Risiko investasi dapat diartikan sebagai kemungkinan terjadinya perbedaan antara actual return dan expected return, sehingga setiap investor dalam mengambil keputusan investasi harus selalu berusaha meminimalisasi berbagai risiko yang timbul, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Setiap perubahan kondisi ekonomi baik mikro ataupun makro akan mendorong investor untuk melakukan strategi yang harus diterapkan untuk tetap memperoleh return.
b. Pengertian Return
Return atau pengembalian adalah keuntungan yang diperoleh perusahaan, individu dan institusi dari hasil kebijakan investasi yang dilakukan. Menurut R. J. Shook, return merupakan laba investasi, baik melalui bunga atau deviden.
Beberapa pengertian return yang lain :
· Return on equity atau imbal hasil atas ekuitas merupakan pendapatan bersih dibagi ekuitas pemegang saham.
· Return of capital atau imbal hasil atas modal merupakan pembayaran kas yang tidak kena pajak kepada pemegang saham yang mewakili imbal hasil modal yang diinvestasikan dan bukan distribusi deviden. Investor mengurangi biaya investasi dengan jumlah pembayaran.
· Return on investment atau imbal hasil atas investasi merupakan membagi pendapatan sebelum pajak terhadap investasi untuk memperoleh angka yang mencerminkan hubungan antara investasi dan laba.
· Return on invested capital atau imbal hasil atas modal investasi merupakan pendapatan bersih dan pengeluaran bunga perusahaan dibagi total kapitalisasi perusahaan.
· Return realisasi merupakan return yang telah terjadi.
· Return on network atau imbal hasil atas kekayaan bersih merupakan pemegang saham yang dapat menentukan imbal hasilnya dengan membandingkan laba bersih setelah pajak dengan kekayaan bersihnya.
· Return on sales atau imbal hasil atas penjualannya merupakan untuk menentukan efisiensi operasi perusahaan, seseorang dapat membandingkan presentase penjualan bersihnya yang mencerminkan laba sebelun pajak terhadap variable yang sama dari periode sebelumnya.
· Return ekspektasi merupakan return yang diharapkan akan diperoleh oleh investor di masa mendatang.
· Total return merupakan return keseluruhan dari suatu investasi dalam suatu periode tertentu.
· Return realisasi portofolio merupakan rata-rata tertimbang dari return-return realisasi masing-masing sekuritas tunggal di dalam portofolio tersebut.
· Return ekspektasi portofolio merupakan rata-rata tertimbang dari return-return ekspektasi masing-masing sekuritas tunggal di dalam portofolio.
c. Pengertian Risiko dan Tingkat Pengembalian
Risk and return adalah kondisi yang dialami oleh perusahaan, institusi, dan individu dalam keputusan investasi yaitu, baik kerugian maupun keuntungan dalam suatu periode akuntansi. Hubungan antara risiko dengan tingkat pengembalian adalah:
1. bersifat linear atau searah
2. Semakin tinggi tingkat pengembalian maka semakin tinggi pula risiko
3. Semakin besar asset yang kita tempatkan dalam keputusan investasi maka semakin besar pula risiko yang timbul dari investasi tersebut.
4. Kondisi linear hanya mungkin terjadi pada pasar yang bersifat normal.
d. Hubungan Karakteristik dengan Risk and Return
Menurut Paul L. Krugman dan Maurice Obstfeld, bahwa pada kenyataanya, seorang investor yang netral terhadap risiko cenderung mengambil posisi agresif maksimum. Ia akan membeli sebanyak mungkin aset yang menjanjikan hasil tinggi dan menjual sebanyak mungkin aset yang hasilnya lebih rendah. Perilaku inilah yang menciptakan kondisi paritas suku bunga. Adapun karakteristik tersebut secara umum dapat dibagi menjadi tiga, yaitu :
1. Takut pada risiko (RISK AVOIDER)
Karakteristik ini di mana sang decision maker sangat hati-hati terhadap keputusan yang diambilnya bahkan ia cenderung begitu tinggi melakukan tindakan yang sifatnya mengindari risiko yang akan timbul jika keputusan diaplikasikan. Karakter pebisnis yang melakukan tindakan seperti ini disebut dengan safety player.
2. Hati-hati pada risiko (RISK INDIFFERENCE)
Karakteristik ini di mana sang decision maker sangat hati-hati atau begitu menghitung terhadap segala dampak yang akan terjadi jika keputusan diaplikasikan. Bagi kalangan bisnis, mereka menyebut orang dengan karakter seperti ini secara ekstrem disebut sebagai tipe peragu.
3. Suka pada risiko (RISK SEEKER atau RISK LOVER)
Karakteristik ini adalah tipe yang begitu suka pada risiko. Mereka terbiasa dengan spekulasi dan itu pula yang membuat penganut karakteristik ini selalu saja ingin menjadi pemimpin dan cenderung tidak ingin menjadi pekerja. Mental risk seeker adalah mental yang dimiliki oleh pebisnis besar dan juga pemimpin besar. Karakter ini yang paling mendominasi jika dilihat dari kedekatannya pada risiko.
Keterangan : Dari gambar di atas, kita bisa memperhatikan bagaimana perubahan dan pergerakan kurva pada tiga karakteristik dalam mengambil keputusan. Di mana terlihat risk seeker akan terus naik ke atas, sementara risk avoider akan terus bergerak turun ke bawah.
1.Tipe-tipe Risiko
Keterangan :
· Pure Risk (Risiko Murni) : suatu ketidakpastian terjadi, maka kejadian tersebut pasti menimbulkan kerugian. Risiko murni dapat dikelompokkan menjadi 3 tipe risiko, yaitu:
1. Risiko aset fisik: risiko yang berakibat timbulnya kerugian pada aset fisik suatu perusahaan/organisasi. Contoh: kebakaran, banjir, gempa, tsunami, gunung meletus, dll.
2. Risiko Karyawan: risiko yang disebabkan karena apa yang dialami oleh karyawan yang bekerja di suatu perusahaan atau organisasi. Contoh : kecelakaan kerja yang menyebabkan terganggunya aktivitas perusahaan.
3. Risiko Legal : risiko dalam bidang kontrak yang mengecewakan atau kontrak tidak berjalan sesuai dengan rencana. Contoh : perselisihan dengan perusahaan lain sehingga adanya persoalan seperti penggantian kerugian.
· Speculative Risk (Risiko Spekulatif) : suatu ketidakpastian akan terjadinya untung atau rugi.Risiko ini dapat dikelompokkan menjadi 4 tipe yaitu:
1. Risiko Pasar: risiko yang terjadi dari pergerakan harga pasar. Contoh: harga saham mengalami penurunan sehingga menimbulkan kerugian.
2. Risiko kredit: risiko yang terjadi karena counter party gagal memenuhi kewajibannya kepada perusahaan. Contoh : timbulnya kredit macet, persentase piutang meningkat.
3. Risiko likuiditas: risiko karena ketidakmampuan memenuhi kebutuhan kas. Contoh: kepemilikan kas menurun, sehingga tidak mampu membayar hutang secara tepat, menyebabkan perusahaan harus menjual aset yang dimilikinya.
4. Risiko operasional: risiko yang disebabkan pada kegiatan operasional yang tidak berjalan lancar. Contoh: terjadi kerusakan pada komputer karena berbagai hal termasuk terkena virus.
· Static Risk (Risiko Statis) : mungkin sifatnya murni atau spekulatif asalnya dari masyarakat yang tidak berubah yang berada dalam keseimbangan stabil. Contoh : ketidakpastian terjadinya sambaran petir.
· Dynamic Risk (Risiko Dinamis) : mungkin sifatnya murni atau spekulatif timbul dari perubahan yang terjadi dalam masyarakat. Contoh : urbanisasi, perkembangan teknologi.
· Subjective Risk (Risiko Subyektif) : berkaitan dengan kondisi mental seseorang yang mengalami keragu-raguan dan kecemasan akan terjadinya kejadian tertentu.
· Objective Risk (Risiko Obyektif) : probabilitas penyimpangan aktual dari yang diharapkan sesuai dengan pengalaman.
2. Sumber-sumber Risiko
Menurut Eduardus Tandelilin, sumber-sumber risiko adalah :
· Risiko suku bunga. Naik turunnya suku bunga perbankan akan mempengaruhi keputusan publik dalam menetapkan keputusannya. Jika suku bunga naik maka publik akan menyimpan dananya di bank seperti dalam bentuk deposito, namun jika turun maka publik akan menggunakan dananya untuk membeli saham.
· Risiko pasar. Kondisi risiko pasar dapat dilihat pada saat fluktuasi pasar, krisis moneter, dan resesi ekonomi.
· Risiko Inflasi. Saat inflasi daya beli masyarakat turun, sedangkan saat normal daya beli masyarakat naik.
· Risiko Bisnis.
· Risiko Finansial.
· Risiko Likuiditas.
· Risiko Nilai tukar mata uang
· Risiko Negara. Berkaitan dengan keadaan politik.
Risiko Sistematis, tidak sistematis dan Total
a. Systematic Risk (Resiko sistematis)
Resiko sistematis disebut juga dengan market risk atau resiko umum.
Resiko sistematis adalah resiko yang bisa didiversifikasikan atau resiko yang sifatnya mempengaruhi secara menyeluruh. Contohnya krisis moneter pada tahun 1997 di Indonesia yang telah menyebabkan banyak sekali perusahaan yang bangkrut dan meningkatnya angka pengangguran. Selain itu terjadi pula pada tahun 2008 yaitu saat dunia dilanda krisis finansial yang salah satunya disebabkan oleh kredit subrime mortgage di Amerika Serikat (tahun 2008) yang sudah terlalu tinggi, dan ternyata tidak bisa diatasi lagi.
b. Unsystematic Risk (Risiko tidak sistematis)
Unsystematic Risk disebut juga dengan resiko spesifik atau resiko yang dapat didiversifikasikan.
Resiko yang tidak sistematis yaitu hanya membawa dampak pada perusahaan yang terkait saja. Jika suatu perusahaan mengalami Unsystematic Risk maka kemampuan untuk mengatasinya masih akan bisa dilakukan, karena perusahaan bisa menerapkan berbagai strategi untuk mengatasinya. Contohnya jika harga sekuritas perusahaan jatuh, maka perusahaan menerapkan berbagai strategi investasi.
c. Total Risk
Total Risk adalah gabungan atau penjumlahan antara Systematic Risk dan Unsystematic Risk.
Sabtu, 26 November 2016
PENGANGGARAN PERUSAHAAN

STIE ASIA
PRODI MANAJEMEN
2016

Bulan
|
Y
|
X
|
X²
|
X.Y
|
X²Y
|
X⁴
|
Januari 2016
|
300
|
-9
|
81
|
-2.700
|
24.300
|
6.561
|
Februari 2016
|
350
|
-7
|
49
|
-2.450
|
17.150
|
2.401
|
Maret 2016
|
400
|
-5
|
25
|
-2.000
|
10.000
|
625
|
April 2016
|
500
|
-3
|
9
|
-1.500
|
4.500
|
81
|
Mei 2016
|
700
|
-1
|
1
|
-700
|
700
|
1
|
Juni 2016
|
750
|
1
|
1
|
750
|
750
|
1
|
Juli 2016
|
800
|
3
|
9
|
2.400
|
7.200
|
81
|
Agustus 2016
|
800
|
5
|
25
|
4.000
|
4.000
|
625
|
September 2016
|
850
|
7
|
49
|
5.950
|
41.650
|
2.401
|
Oktober 2016
|
900
|
9
|
81
|
8.100
|
72.900
|
6.561
|
Σ
|
6.350
|
0
|
330
|
12.450
|
183.150
|
19.398
|
ΣX²Y = Σ X² a + c . Σ X⁴
183.150 = 330a + c19398
183.150 = 330a + c19.338 (x58,6)
256
ΣX² 330
183.150 = 330a + c19.338 (x33)
183.150 = 330a + c19.338 -
26.400 = -8.448c
c = 26.400 = -3,125
- 8.448
= 775,52 / 776 botol
= 701,2 / 701 botol
= 601,92 / 602 botol
= 477,68 / 478 botol
= 328,48 / 328 botol
= 154,32 / 154 botol
- Botol Kecil = 70% X 388 = 272 botol
- Botol Besar = 30% X 388 = 116 botol
Besar = 24,34% X 116 botol = 28 botol X 10.000 = Rp 280.000
Besar = 25,66% X 116 botol = 30 botol X 10.000 = Rp 300.000
Besar = 26,32% X 116 botol = 31 botol X 10.000 = Rp 310.000
Jenis
Kemasan |
Minggu I
|
Minggu II
|
Minggu III
|
Minggu IV
|
Sebulan
| |||||
Btl
|
Rp
|
Btl
|
Rp
|
Btl
|
Rp
|
Btl
|
Rp
|
Btl
|
Rp
| |
Kecil
|
64
|
320.000
|
66
|
330.000
|
70
|
350.000
|
72
|
360.000
|
272
|
1.360.000
|
Besar
|
27
|
270.000
|
28
|
280.000
|
30
|
300.000
|
31
|
310.000
|
116
|
1.160.000
|
Total
|
91
|
590.000
|
94
|
610.00
|
100
|
650.000
|
103
|
670.000
|
388
|
2.520.000
|
Anggaran Penjualan Bulan November 2016
- Botol Kecil = 70% X 350 = 245 botol
- Botol Besar = 30% X 350 = 105 botol
Besar = 24,34% X 105 botol = 25 botol X 10.000 = Rp 250.000
Besar = 25,66% X 105 botol = 27 botol X 10.000 = Rp 270.000
Besar = 26,32% X 105 botol = 28 botol X 10.000 = Rp 280.000
Anggaran Penjualan Bulan Desember 2016
Jenis
Kemasan |
Minggu I
|
Minggu II
|
Minggu III
|
Minggu IV
|
Sebulan
| |||||
Btl
|
Rp
|
Btl
|
Rp
|
Btl
|
Rp
|
Btl
|
Rp
|
Btl
|
Rp
| |
Kecil
|
58
|
290.000
|
60
|
300.000
|
63
|
315.000
|
64
|
320.000
|
245
|
1.225.000
|
Besar
|
25
|
250.000
|
25
|
250.000
|
27
|
270.000
|
28
|
280.000
|
105
|
1.050.000
|
Total
|
83
|
540.000
|
85
|
550.000
|
90
|
585.000
|
92
|
600.000
|
350
|
2.275.000
|
- Botol Kecil = 70% X 301 = 211 botol
- Botol Besar = 30% X 301 = 90 botol
Besar = 24,34% X 90 botol = 22 botol X 10.000 = Rp 220.000
Besar = 25,66% X 90 botol = 23 botol X 10.000 = Rp 230.000
Besar = 26,32% X 90 botol = 24 botol X 10.000 = Rp 240.000
Anggaran Penjualan Bulan Januari 2017
Jenis
Kemasan |
Minggu I
|
Minggu II
|
Minggu III
|
Minggu IV
|
Sebulan
| |||||
Btl
|
Rp
|
Btl
|
Rp
|
Btl
|
Rp
|
Btl
|
Rp
|
Btl
|
Rp
| |
Kecil
|
50
|
250.000
|
51
|
255.000
|
54
|
270.000
|
56
|
280.000
|
211
|
1.055.000
|
Besar
|
21
|
210.000
|
22
|
220.000
|
23
|
230.000
|
24
|
240.000
|
90
|
900.000
|
Total
|
71
|
460.000
|
73
|
475.000
|
77
|
600.000
|
80
|
520.000
|
301
|
1.955.000
|
- Botol Kecil = 70% X 239 = 167 botol
- Botol Besar = 30% X 239 = 72 botol
Besar = 24,34% X 72 botol = 18 botol X 10.000 = Rp 180.000
Besar = 25,66% X 72 botol = 18 botol X 10.000 = Rp 180.000
Besar = 26,32% X 72 botol = 19 botol X 10.000 = Rp 190.000
Anggaran Penjualan Bulan Februari 2017
Jenis
Kemasan |
Minggu I
|
Minggu II
|
Minggu III
|
Minggu IV
|
Sebulan
| |||||
Btl
|
Rp
|
Btl
|
Rp
|
Btl
|
Rp
|
Btl
|
Rp
|
Btl
|
Rp
| |
Kecil
|
40
|
200.000
|
41
|
205.000
|
43
|
215.000
|
44
|
220.000
|
167
|
840.000
|
Besar
|
17
|
170.000
|
18
|
180.000
|
18
|
180.000
|
19
|
190.000
|
72
|
720.000
|
Total
|
57
|
370.000
|
59
|
385.000
|
61
|
395.000
|
63
|
410.000
|
239
|
1.560.000
|
- Botol Kecil = 70% X 164 = 115 botol
- Botol Besar = 30% X 164 = 49 botol
Besar = 24,34% X 49 botol = 12 botol X 10.000 = Rp 120.000
Besar = 25,66% X 49 botol = 12 botol X 10.000 = Rp 120.000
Besar = 26,32% X 49 botol = 13 botol X 10.000 = Rp 130.000
Anggaran Penjualan Bulan Maret 2017
Jenis
Kemasan |
Minggu I
|
Minggu II
|
Minggu III
|
Minggu IV
|
Sebulan
| |||||
Btl
|
Rp
|
Btl
|
Rp
|
Btl
|
Rp
|
Btl
|
Rp
|
Btl
|
Rp
| |
Kecil
|
27
|
135.000
|
28
|
140.000
|
30
|
150.000
|
30
|
150.000
|
115
|
575.000
|
Besar
|
12
|
110.000
|
12
|
120.000
|
12
|
120.000
|
13
|
130.000
|
49
|
480.000
|
Total
|
39
|
245.000
|
40
|
260.000
|
42
|
270.000
|
43
|
280.000
|
164
|
1.055.000
|
- Botol Kecil = 70% X 77 = 54 botol
- Botol Besar = 30% X 77 = 23 botol
Besar = 24,34% X 23 botol = 6 botol X 10.000 = Rp 60.000
Besar = 25,66% X 23 botol = 6 botol X 10.000 = Rp 60.000
Besar = 26,32% X 23 botol = 6 botol X 10.000 = Rp 60.000
Anggaran Penjualan Bulan April 2017
Jenis
Kemasan |
Minggu I
|
Minggu II
|
Minggu III
|
Minggu IV
|
Sebulan
| |||||
Btl
|
Rp
|
Btl
|
Rp
|
Btl
|
Rp
|
Btl
|
Rp
|
Btl
|
Rp
| |
Kecil
|
13
|
65.000
|
13
|
65.000
|
14
|
70.000
|
14
|
70.000
|
54
|
270.000
|
Besar
|
5
|
50.000
|
6
|
60.000
|
6
|
60.000
|
6
|
60.000
|
23
|
230.000
|
Total
|
18
|
115.000
|
19
|
125.000
|
20
|
130.000
|
20
|
130.000
|
77
|
500.000
|
Anggaran Produk Bulan November 2016
Keterangan
|
Minggu I
|
Minggu II
|
Minggu III
|
Minggu IV
|
Sebulan
| ||||||||||
K
|
B
|
Total
|
K
|
B
|
Total
|
K
|
B
|
Total
|
K
|
B
|
Total
|
K
|
B
|
Total
| |
Penjualan
|
64
|
27
|
91
|
66
|
28
|
94
|
70
|
30
|
100
|
72
|
31
|
103
|
272
|
116
|
388
|
Produk Jadi
|
65
|
29
|
94
|
67
|
29
|
96
|
71
|
33
|
104
|
73
|
33
|
106
|
275
|
117
|
389
|
Keterangan
|
Minggu I
|
Minggu II
|
Minggu III
|
Minggu IV
|
Sebulan
| ||||||||||
K
|
B
|
Total
|
K
|
B
|
Total
|
K
|
B
|
Total
|
K
|
B
|
Total
|
K
|
B
|
Total
| |
Penjualan
|
58
|
25
|
83
|
60
|
25
|
85
|
63
|
27
|
90
|
64
|
28
|
92
|
245
|
105
|
350
|
Produk Jadi
|
59
|
27
|
85
|
61
|
27
|
87
|
65
|
29
|
91
|
65
|
29
|
93
|
247
|
107
|
357
|
Keterangan
|
Minggu I
|
Minggu II
|
Minggu III
|
Minggu IV
|
Sebulan
| ||||||||||
K
|
B
|
Total
|
K
|
B
|
Total
|
K
|
B
|
Total
|
K
|
B
|
Total
|
K
|
B
|
Total
| |
Penjualan
|
50
|
21
|
71
|
51
|
22
|
73
|
54
|
23
|
77
|
56
|
24
|
80
|
211
|
90
|
301
|
Produk Jadi
|
53
|
22
|
72
|
53
|
23
|
74
|
55
|
25
|
78
|
57
|
25
|
82
|
212
|
92
|
303
|
Keterangan
|
Minggu I
|
Minggu II
|
Minggu III
|
Minggu IV
|
Sebulan
| ||||||||||
K
|
B
|
Total
|
K
|
B
|
Total
|
K
|
B
|
Total
|
K
|
B
|
Total
|
K
|
B
|
Total
| |
Penjualan
|
40
|
17
|
57
|
41
|
18
|
59
|
43
|
18
|
61
|
44
|
19
|
63
|
167
|
72
|
239
|
Produk Jadi
|
42
|
18
|
59
|
42
|
19
|
61
|
44
|
19
|
63
|
45
|
20
|
65
|
169
|
73
|
240
|
Keterangan
|
Minggu I
|
Minggu II
|
Minggu III
|
Minggu IV
|
Sebulan
| ||||||||||
K
|
B
|
Total
|
K
|
B
|
Total
|
K
|
B
|
Total
|
K
|
B
|
Total
|
K
|
B
|
Total
| |
Penjualan
|
27
|
12
|
39
|
28
|
12
|
40
|
30
|
12
|
42
|
30
|
13
|
43
|
115
|
49
|
164
|
Produk Jadi
|
29
|
13
|
41
|
29
|
14
|
42
|
31
|
14
|
43
|
32
|
15
|
45
|
117
|
51
|
167
|
Keterangan
|
Minggu I
|
Minggu II
|
Minggu III
|
Minggu IV
|
Sebulan
| ||||||||||
K
|
B
|
Total
|
K
|
B
|
Total
|
K
|
B
|
Total
|
K
|
B
|
Total
|
K
|
B
|
Total
| |
Penjualan
|
13
|
5
|
18
|
13
|
6
|
19
|
14
|
6
|
20
|
14
|
6
|
20
|
54
|
23
|
77
|
Produk Jadi
|
15
|
7
|
20
|
15
|
7
|
21
|
15
|
7
|
22
|
15
|
7
|
22
|
55
|
25
|
79
|





